ujian juga

July 19, 2007

Bedah caesar
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Bedah caesar (bahasa Inggris: caesarean section atau cesarean section dalam Inggris-Amerika), disebut juga dengan c-section (disingkat dengan cs) adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Bedah caesar umumnya dilakukan ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena beresiko kepada komplikasi medis lainnya. Sebuah prosedur persalinan dengan pembedahan umumnya dilakukan oleh tim dokter yang beranggotakan spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anastesi serta bidan.

Bedah caesar teknik vertikal
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Etimologi
2 Jenis
3 Indikasi
4 Resiko
5 Prevalensi
6 Anastesis
7 Persalinan normal setelah bedah caesar
8 Sejarah
9 Referensi
10 Pranala luar
11 Rujukan

[sunting] Etimologi
Ada beberapa unsur yang dapat menjelaskan asal kata “caesar”.
Istilah dapat diambil dari kata kerja bahasa Latin caedere yang berarti “membedah”. Dengan demikian “bedah caesar” menjadi gaya bahasa retoris.
Istilah yang mungkin diambil dari pemimpin Romawi kuno Julius Caesar yang disebut-sebut dilahirkan dengan metode tersebut. Dalam sejarah, hal ini sangat tidak memungkinkan karena ibunya masih hidup ketika ia mencapai usia dewasa (bedah caesar tidak mungkin dilakukan pada masa tersebut terkait dengan teknologi yang tidak mendukung), tetapi legenda tersebut telah bertahan sejak abad ke-2 SM.
Hukum Romawi yang menjelaskan bahwa prosedur tersebut perlu dilakukan pada ibu hamil yang meninggal untuk menyelamatkan nyawa sang bayi. Hal ini dikenal dengan istilah lex caesarea, sehingga hukum Romawi mungkin menjadi asal usul istilah ini.
Secara umum, istilah “bedah caesar” merupakan gabungan dari hal-hal tersebut di atas. Kata kerja caedo dalam kalimat a matre caesus (“membedah ibunya”) digunakan pada masa Romawi untuk mendeskripsikan operasi tersebut.
[sunting] Jenis

Sebuah operasi caesar sedang dalam proses.
Ada beberapa jenis “caesarean sections” (CS):
Jenis klasik yaitu dengan melakukan sayatan vertikal sehingga memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan keluar bayi. Akan tetapi jenis ini sudah sangat jarang dilakukan hari ini karena sangat beresiko terhadap terjadinya komplikasi.
Sayatan mendatar di bagian atas dari kandung kemih sangat umum dilakukan pada masa sekarang ini. Metode ini meminimalkan resiko terjadinya pendarahan dan cepat penyembuhannya.
Histerektomi caesar yaitu bedah caesar diikuti dengan pengangkatan rahim. Hal ini dilakukan dalam kasus-kasus dimana pendarahan yang sulit tertangani atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari rahim.
Bentuk lain dari bedah caesar seperti extraperitoneal CS atau Porro CS.
Bedah caesar berulang dilakukan ketika pasien sebelumnya telah pernah menjalan bedah caesar. Umumnya sayatan dilakukan pada bekas luka operasi sebelumnya.
Di berbagai rumah sakit, khususnya di Amerika Serikat, Britania Raya, Australia dan Selandia Baru, sang suami disarankan untuk turut serta pada proses pembedahan untuk mendukung sang ibu. Dokter spesialis anastesis umumnya akan menurunkan kain penghalang ketika si bayi dilahirkan agar orang tua si bayi dapat melihat bayinya. Rumah sakit di Indonesia umumnya tidak memperbolehkan adanya orang lain turut serta waktu persalinan dengan bedah caesar termasuk sang suami.
[sunting] Indikasi

Seorang bayi ketika dilahirkan melalui bedah caesar
Dokter spesialis kebidanan akan menyarankan bedah caesar ketika proses kelahiran melalui vagina kemungkinan akan menyebabkan resiko kepada sang ibu atau si bayi. Hal-hal lainnya yang dapat menjadi pertimbangan disarankannya bedah caesar antara lain:
proses persalinan normal yang lama atau kegagalan proses persalinan normal (dystosia)
detak jantung janin melambat (fetal distress)
adanya kelelahan persalinan
komplikasi pre-eklampsia
sang ibu menderita herpes
putusnya tali pusar
resiko luka parah pada rahim
persalinan kembar (masih dalam kontroversi)
sang bayi dalam posisi sungsang atau menyamping
kegagalan persalinan dengan induksi
kegagalan persalinan dengan alat bantu (forceps atau ventouse)
bayi besar (makrosomia – berat badan lahir lebih dari 4,2 kg)
masalah plasenta seperti plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir), placental abruption atau placenta accreta)
kontraksi pada pinggul
sebelumnya pernah menjalani bedah caesar (masih dalam kontroversi)
sebelumnya pernah mengalami masalah pada penyembuhan perineum (oleh proses persalinan sebelumnya atau penyakit Crohn)
angka d-dimer tinggi bagi ibu hamil yang menderita sindrom antibodi antifosfolipid
CPD atau cephalo pelvic disproportion (proporsi panggul dan kepala bayi yang tidak pas, sehingga persalinan terhambat)
Kepala bayi jauh lebih besar dari ukuran normal (hidrosefalus)
Ibu menderita hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi)
Harap diingat bahwa institusi yang berbeda dapat memiliki pendapat yang berbeda pula mengenai kapan suatu bedah caesar dibutuhkan. Di Britania Raya, hukum menyatakan bahwa ibu hamil mempunyai hak untuk menolak tindakan medis apapun termasuk bedah caesar walaupun keputusan tersebut beresiko terhadap kematiannya atau nyawa sang bayi. Negara lain memiliki hukum yang berbeda mengenai hal ini. Lihat pula mengenai bedah caesar berdasarkan permintaan.
[sunting] Resiko

Metode sayatan mendatar
Data statistik dari 1990-an menyebutkan bahwa kurang dari 1 kematian dari 2.500 yang menjalani bedah caesar, dibandingkan dengan 1 dari 10.000 untuk persalinan normal [1]. Akan tetapi angka kematian untuk kedua proses persalinan tersebut terus menurun sekarang ini. Badan kesehatan Britania Raya menyebutkan resiko kematian ibu yang menjalani bedah caesar adalah tiga kali resiko kematian ketika menjalani persalinan normal [2]. Akan tetapi, adalah tidak mungkin untuk membandingkan secara langsung tingkat kematian proses persalinan normal dan proses persalinan dengan bedah caesar karena ibu yang menjalani pembedahan adalah mereka yang memang sudah beresiko dalam kehamilan.
Bayi yang lahir dengan persalinan bedah caesar seringkali mengalami masalah bernafas untuk pertama kalinya. Sering pula sang bayi menjadi ngantuk dikarenakan obat penangkal nyeri yang diberikan kepada sang ibu.
[sunting] Prevalensi
Badan Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa angka persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10% sampai 15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang dibandingkan dengan 20% di Britania Raya dan 23% di Amerika Serikat. Kanada pada 2003 memiliki angka 21%.
Berbagai pertimbangan mengemuka akhir-akhir ini mengingat proses bedah caesar yang seringkali dilakukan bukan karena alasan medis. Berbagai kritik pula mengemuka karena bedah caesar yang disebut-sebut lebih menguntungkan rumah sakit atau karena bedah caesar lebih mudah dan lebih singkat waktu prosesnya oleh dokter spesialis kandungan. Kritik lainnya diberikan terhadap mereka yang meminta proser bedah caesar karena tidak ingin mengalami nyeri waktu persalinan normal.
[sunting] Anastesis

Sang ibu tetap dalam keadaan sadar waktu bayinya dilahirkan
Sang ibu umumnya akan diberikan anastesi lokal (spinal atau epidural), yang memungkinkan sang ibu untuk tetap sadar selama proses pembedahan dan untuk menghindari si bayi dari pembiusan.
Pada masa sekarang ini, anastesi umum untuk bedah caesar menjadi semakin jarang dilakukan karena pembiusan lokal lebih menguntungkan bagi sang ibu dan si bayi. Pembiusan umum dilakukan apabila terjadi kasus-kasus beresiko tinggi atau kasus darurat.
[sunting] Persalinan normal setelah bedah caesar
Persalinan normal setelah bedah caesar adalah umum dilakukan pada masa sekarang ini. Di waktu lalu, bedah caesar dilakukan dengan sayatan vertikal sehingga memotong otot-otot rahim. Bedah caesar sekarang ini umumnya melalui sayatan mendatar pada otot rahim sehingga rahim lebih terjaga kekuatannya dan dapat menghadapi kontraksi kuat pada persalinan normal berikutnya. Luka bekas sayatan pada bedah caesar sekarang ini adalah terletak di bawah “garis bikini”.
[sunting] Sejarah

Bedah caesar dilakukan di Kahura, Uganda. Sebagaimana diamati oleh R. W. Felkin tahun 1879.
Pada 1316, Robert II dari Skotlandia dilahirkan dengan bedah caesar, ibunya Marjorie Bruce, kemudian meninggal. Bukti pertama mengenai ibu yang selamat dari bedah caesar adalah di Siegershausen, Swiss tahun 1500: Jacob Nufer, seorang pedagang babi, harus membedah istrinya setelah proses persalinan yang lama. Prosedur bedah caesar di waktu lampau mempunyai angka kematian yang tinggi. Di Britania Raya dan Irlandia, angka kematian akibat bedah caesar pada 1865 adalah 85%. Beberapa penemuan yang membantu menurunkan angka kematian antara lain:
Pengembangan prinsip-prinsip asepsis.
Pengenalan prosedur penjahitan rahim oleh Max Sänger pada 1882.
Extraperitoneal CS dilanjutkan dengan sayatan mendatar rendah (Krönig, 1912).
Perkembangan teknik anestesi.
Transfusi darah.
Antibiotik.
Pada 5 Maret 2000, Inés Ramírez melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri dan berhasil mempertahankan nyawanya dan juga bayinya, Orlando Ruiz Ramírez. Ia dipercaya sebagai satu-satunya wanita yang melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri.
[sunting] Referensi
Williams Obstetrics. Edisi ke-14. Appleton Century-Crofts, New York, 1971, halaman 1163-1190.
[sunting] Pranala luar
(id) Operasi Caesar: Bersenang-senang Dulu, Bersakit-sakit Kemudian?
(en) Caesareans and VBACs FAQ
(en) C-section recovery
(en) VBAC Backlash
(en) “Medlineplus about Cesareans”
(en) Procedures: Caesarean section
[sunting] Rujukan
1. ^ Risks of Cesarean Section
2. ^ Caesarean section
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Bedah_caesar”

Advertisements

ujian

July 19, 2007

Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 47Pengaruh Faktor Berat Badan, Usia Kandungan, Posisi Anak Terhadap Taraf Retardasi Mental Siti Isfandari, Ekowati Rahajeng Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.L, Jakarta PENDAHULUAN Retardasi mental adalah keadaan fungsi intelektual umum bertaraf subnormal yang dimulai dalam masa perkembangan individu dan berhubungan dengan terbatasnya kemampuan belajar maupun daya penyesuaian dan proses pendewasaan individu.1Retardasi mental bukari merupakan suatu penyakit, melain-kan suatu kondisi yang mempunyai penyebab berbeda-beda. Penyebab retardasi mental dapat dikatagorikan dalam 3 kata-gori, yaitu yang bersifat organobiologik, psikoedukatif dan sosio kultural. Penyebab organobiologik, misalnya : berat badan, usia kelahiran, posisi bayi dalam kandungan, penyakit campak waktu bayi, kekurangan fenilalanin, dan lain-lain. Penyebab psiko-edukatif berkaitan dengan kurangnya stimulasi dini, lingkungan yang tidak memacu perkembangan otak, terutama pada tiga tahun pertama. Penyebab sosiobudaya berfokus pada perbedaan variabel sosioekonomibudaya; prevalensi penderita retardasi mental lebih besar pada keluarga dengan tingkat sosioekonomi rendah. Namun ketiga katagori penyebab retardasi mental tersebut tidak berdiri secara terpisah. Kekurangan faktor yang satu dapat diperbaiki dengan meningkatkan faktor yang lain, misalnya : anak dengan berat badan lahir rendah dapat dicegah menjadi retardasi dengan meningkatkan stimulasi yang berkaitan dengan peningkatan fungsi otak. Menurut kepustakaan prevalensi retardasi mental adalah 3,4% dari seluruh populasi.2Di Indonesia menurut Catryn terdapat prevalensi sebesar 3%. 3 Pada penelitian di komunitas pada orang dewasa terdapat prevalensi sebesar 1,89%.4Penelitian tentang retardasi mental sangat penting, karena menyangkut kualitas sumber daya manusia. Sebagaimana diketahui retardasi mental berat menjadi beban masyarakat, sedang border line atau ringan masih dapat melakukan pekerjaan sederhana. Dari penelitian Santoso (1981) dikatakan bahwa 74% (196) dari 265 narapidana mempunyai kecerdasan subnormal dan mampu melakukan pe-keijaan ringan.3Bila retardasi mental dapat dicegah oleh upaya tertentu, hal ini akan menguntungkan sumber daya manusia. FAKTOR PENYEBAB Seperti telah dikatakan, penyebab retardasi mental terbagi dalam 3 katagori, yaitu : penyebab organobiologis, psikoedukatif dan sosial budaya. Wainer (1978) menggolongkan penyebab retardasi mental dalam 2 golongan, yaitu : familial retardation dan penyebab organobiologis. Dalam familial retardation tidak ditemukan ketidak normalan biologis, namun ada sejarah keluarga bahwa satu atau kedua orang tuanya mengalami retardasi mental. Belum diketahui apakah familial retardation disebabkan karena faktor genetik atau pengalaman diasuh orartg tua yang mengalami retardasi mental. Seperti yang telah dikatakan familial retardation tidak mem-punyai sebab biologis yang jelas. IQ mereka berkisar antara 50 sampai 69 serta mempunyai sejarah keluarga yang mengalami retardasi mental, tapi penyebab khususnya tidak diketahui. Sebagian besar para ahli mengatakan bahwa familial retardation adalah cacat bawaan yang diperoleh melalui gen dari orang tua yang terbelakang kepada anaknya. Pendapat ini berdasarkan pada kejadian bahwa 50% sampai 75% skor IQ dapat diperkira-kan (diprediksi) melalui ketunrnannya. Hal ini berarti makin dekat hubungan darah antara dua orang, makin besar persamaan inteligensinya. Misal : anak kembar identik lebih banyak kesamaannya dibanding anak kembar fraternal, walau mereka diasuh secara terpisah. Demiki-an pula IQ dari anak yang diadopsi lebih mendekati orang tua biologisnya dibanding orang tua adopsinya. Tapi ahli lain membantah bahwa inteligensi lebih ditentukan oleh pengalaman anak daripada keturunannya, dan bahwa retar-dasi mental tanpa penyebab biologis, disebabkan oleh faktor psikososial. Sudah diketahui bahwa anak yang kekurangan stimulasi psikososial, inteligensinya tidak akan berkembang normal. Peneliti lain berpendapat bahwa diasuh oleh satu atau kedua orang tua yang retarded akan menyebabkan inteligensi Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 48 anaknya akan di bawah rerata. Mereka berpendapat hal ini karena terbatasnya stimulasi sosial yang diberikan oleh orang tua terbelakang, juga karena lingkungan tempat mereka hidup tidak sempurna. Pandangan ini didukung kenyataan bahwafamilial retardation lebih sering terjadi pada keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah dibanding yang menengah, terutama pada keluarga yang hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan. Di samping itu “menjadi misikin” merupakan akibat dan bukan sebab dari keluarga yang terbelakang. Pandangan ini disebut cultural drift hypothesis. Keluarga yang retardasi mempunyai taraf SES rendah karena keterbatasan kemampuan dan kapasitas mereka. Sedikit ahli berpendapat bahwa inteligensi di bawah rerata disebabkan hanya oleh faktor psikososial atau biologis saja. Sebagian besar yakin bahwa interaksi antara pengaruh faktor genetik dan lingkungan yang menentukan tingkat keparahan retardasi. Motivasi dan emosi dari orang yang terbelakang merupakan hal penting dalam fungsi intelektualnya. Fungsi intelektual dari orang dengan inteligensi normal dan yang di bawah rerata dipengaruhi oleh keadaan di mana mereka diasuh, dalam lingkungan yang kaya atau miskin stimulasi. Lingkungan yang kaya akan stimulasi dapat meningkatkan fungsi intele-gensi.5Di samping familial retardation, penyebab retardasi mental berhubungan dengan tidak sempumanya berat badan dan usia kelahiran. Bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram sewaktu dilahirkari iempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita retardasi mental. Anak dengan usia kandungan di bawah 9 bulan berkaitan dengan tidak sempumanya keadaan bayi yang membuatnya peka terhadap tekanan, stres dan pe-nyakit dari lingkungan. Anak dengan usia kandungan di atas 9 bulan akan mengalami kekurangan persediaan makanan. Hal ini mempengaruhi perkembangan otak yang berpengaruh terhadap fungsi intelektual. Akibat psikologik dan kemampuan belajar yang disebabkan oleh ketidaksempumaan berat badan dan,usia kandungan saja sulit dipastikan karena kedua hal itu dipengaruhi oleh banyak variabel. Penelitian Rubin dkk atas akibat psikologik dan kemampuan belajar dari anak yang lahir prematur mendapatkan basil yang menarik. Mereka menggolongkan bayi menurut usia kandung- an dan berat badan. Kesimpulan dari penelitian mereka ialah : anak laki dengan berat badan rendah dan preterm serta anak dengan berat badan rendah aterm dan kedua jenis kelamin merupakan anak dengan risiko tinggi dalam ketidak-sempumaan fungsi belajar (sulit untuk belajar sempuma). Hasil lengkap dari penelitian tersebut ialah : 1)Berat badan rendah banyak berhubungan dengan kondisi yang tidak normal, seperti skor Apgar yang rendah, mening-katnya bilirubin dalam periode neonatal. 2)Berat badan lebih berpengaruh terhadap ketidak sempumaan logika, kemampuan mental (psikologis) dan kemampuan belajar dibandingkan dengan usia kandungan. 3)Bayi lelaki dengan berat badan rendah dan bayi dengan berat badan rendah dengan usia kandungan cukup dari kedua jenis kelamin lebih mempunyai masalah dalam kemampuan belajar dibandingkan dengan bayi dengan berat badan dan usia kandungan normal. 4)Bayi dengan berat badan rendah mempunyai skor lebih rendah dalam semua pengukuran obyektif perkembangan mental, bahasa, kesiapan sekolah dan prestasi belajar pada usia 7 tahun. 5)Tidak ada pengaruh perbedaan seks antara bayi dengan berat badan rendah pada pengukuran objektif perkembangan psiko-logis dan prestasi. Bayi lelaki lebih mempunyai permasalahan dalam kemampuan belajar dibandingkan dengan bayi perem- puan. 6) Pada usia 7 tahun, bayi dengan berat badan rendah lebih kecil dan pendek serta insidens abnormalitas neurologisnya lebih tinggi dibandingkan dengan bayi dengan berat badan normal. 7) Di antara bayi dengan berat badan ,normal, tidak ada per-bedaan psikologis dan kemampuan belajar antara mereka yang lahir preterm dan aterm.6Selain familial retardation, tidak sempumanya usia kandung-an dan berat badan, retardasi mental dipengaruhi pula oleh posisi bayi dalam persalinan. Bayi dengan posisi normal, yaitu kepala dalam kedudukan ke luar lebih dahulu, mengalami luka dan kesakitan lebih sedikit dibandingkan dengan posisi lain. Bayi dengan posisi abnormal dapat menimbulkan berbagai macam masalah. Kerusakan otak dan anoksia dapat terjadi karena posisi yang abnormal. Kedua hal itu dapat mempengaruhi perkembangan bayi, terutama fungsi intelektualnya.6Tujuan tulisan ini adalah untuk mengemukakan pengaruh faktor berat badan, usia kandungan dan posisi janin terhadap taraf retardasi mental. Dengan infonnasi yang lebih jelas, di-harapkan dapat diadakan pencegahan sedini mungkin terhadap kejadian retardasi mental. MATERI DAN METODOLOGI Data untuk penelitian ini diambil dan penelitian yang telah dilakukan oleh Elcowati Rahajeng di SLB Semarang pada tahun 1988. Dalam penelitian tersebut populasi penelitian adalah seluruh anak retardasi mental yang belajar di SLB tipe C. Yang dijadikan subyek penelitian adalah siswa SLB Widya Bhakti, Immanuel dan YPAC Semarang berjumlah 198 anak. Rencana penelitian ini adalah studi observasional retrospektif atau survei yang sifatnya deskriptif, karena kejadian retardasi mental ditelusuri secara retrospektifmelalui karakteristik riwayat persalinan. Observasi dilakukan melalui wawancara tertulis tidak langsung berdasarkan angket yang telah diujicoba. Responden adalah ibu kandung dari anak retardasi mental (bila ibu sudah meninggal, diwakili oleh suami atau saudara terdekat). Setiap kuesioner dikirimkan kepada orang tua dilampirkan surat pe-ngantar dan petunjuk pengisian dengan jelas. Untuk kuesioner yang tidak lengkap jawabannya, dilakukan pemanggilan orang tua melalui sekolah atau kunjungan rumah. Pengklasifikasian taraf retardasi mental adalah : 1)Taraf ringan, nilai IQ lebih 50 2)Taraf sedang,nilai IQ 35 — 49 3)Taraf berat, nilai IQ kurang dari 34. Definisi operasional dalam penelitian ini : 1) Berat badan anak waktu lahir adalah jumlah gram yang men-jadi berat badan anak waktu lahir. Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 492)Umur anak dalam kandungan adalah jumlah bulan yang dilalui anak dalam rahim ibunya. 3)Posisi janin adalah penjelasan dt kter atau bidan tentang letak bayi sewaktu dilahirkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Prosentase Taraf Retardasi Mental menurut Beat Badan Anak Waktu Lahir. Retardasi Mental Berat BadanWaktu LahirBerat Sedang Ringan Total f % f % f % f % 3000 14 12,6 15 13,5 82 73,87 111 100 Keterangan : X — 10.777 p < 5% (Ekowati. 1988) Dalam penelitian ini didapatkan basil bahwa ada hubungan antara berat badan anal( dengan taraf retardasi mental. Anak dengan berat badan makin ringan cenderung mengalami retar-dasi mental yang lebih berat. Hal ini sesuai dengan pendapat Drillen dkk. bahwa bayi yang sewaktu lahir mempunyai berat di bawah 2500 gram cenderung mengalami retardasi mental lebih berat. Makin ringan berat bayi, makin besar kemungkinan untuk mengalami retardasi mental. s Kurangnya berat badan bayi berhubungan dengan kesehatan ibu selama kehamilan terutama saat 3 bulan pertama dari ke-hamilan. Pada masa itu terjadi pembentukan sistem saraf sentral yang mempengaruhi fungsi intelektual. Kurangnya berat bayi juga dipengaruhi oleh radiasi, obat-obatan dan kebiasaan me-rokok pada ibu.2Bayi dengan berat badan kurang juga peka terhadap penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi perkem-bangan logika, mental dan kemampuan belajar yang tidak sempuma. Tabel 2. Prosentase Taraf Retardasi Mental menurut Letak Janin. Retardasi Mental Beat Sedang Ringan Total Letak Janinf % f % f % F % Normal 15 20,8 24 33,3 33 45,8 72100Sungsang 15 46,875 6 18,75 11 34,375 32 100 Tidak tahu 0 0 3 3,19 91 96,8 94 100 Keterangan : X — 5.991 p < 5% (Ekowati Rahajeng. 1988) Dari tabel 2 ternyata bahwa pada bayi dengan letak sungsang proporsi retardasi mental berat lebih banyak dibandingkan dengan retardasi mental sedang. Namun data ini masih me-merlukan kdnfirmasi lebih lanjut karena adanya data yang tidak diketahui sedangkan retardasi mental ringan relatif besar. Proses kelahiran merupakan masa kritis, tapi bahaya dapat di-kurangi bila bayi berada dalam posisi normal, yaitu kepala keluar lebih dahulu. Posisi selain itu adalah abnormal dan banyak menimbulkan masalah 6 Posisi yang tidal( normal membuat sulitnya pengeluaran bayi melalui saluran kelahiran dan dapat mengakibatkan anoxia (kekurangan oksigen). Dalam posisi sungsang plasenta yang sudah terputus pada waktu kepala bayi masih berada dalam kandungan dapat mengakibatkan terputusnya pemberian oksigen pada bayi. Dengan demikian kerusakan otak dan anoksia dapat mempengaruhi perkembangan otak dan fungsi intelektual-nya. Tabel 3. Prosentase Taraf Retardasi Mental menurut Umur Anak dalam Kandungan. Retardasi Mental Berat Sedang Ringan Total Umur Anak dalam Kandungan f % f % f % f 9 bulan 16 18,6 13 15,6 57 66,8 86 100 Keterangan : X — 4.327 p > 0,05 (Ekowati Rahajeng. 1988) Pada tabel 3 tampak bahwa usia bayi dalam kandungan mempunyai hubungan yang kurang jelas dengan taraf retardasi mental. Hal ini sesuai dengan basil penelitian Rubin dick (1973) bahwa tidak ada perbedaan kemampuan psikologis dan belajar pada bayi dengan berat normal berdasarkan perbedaan usia kandungan. Berat bayi lebih berpengaruh terhadap fungsi neuro-logis, psikologis dan kemampuan belajar dibandingkan dengan usia kandungan.5Tapi apabila digolongkan berdasarkan usia kandungan, tampak bahwa bayi dengan umur kandungan di bawah 9 bulan dan normal cenderung mengalami retardasi mental ke arah ringan, sedang pada usia kandungan di atas 9 bulan, terdapat kecenderungan yang bervariasi. Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 50 KESIMPULAN Di antara beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya retardasi mental, berat badan bayi dan letak bayi dalam kandung-an mempunyai pengaruh yang bermakna. Makin ringan berat bayi, retardasi mental yang dialami cenderung lebih berat. Bayi dengan letak tidak normal cenderung pula mengalami retardasi mental ke arah yang lebih berat dibanding bayi dengan posisi normal. SARAN Dari hasil penelitian ini dapat disarankan agar ibu memper-hatikan kesehatan dirinya, seperti : memperhatikan gizi, hati-hati minum obat dan mengurangi kebiasaan buruk, seperti : kebiasa-an minum alkohol, merokok serta secara rutin memeriksa kandungannya. Pada anak yang dikhawatirkan mempunyai resiko tinggi akan mengalami retardasi mental, sebaiknya diberikan stimulasi psi- kososial sebanyak mungkin. KEPUSTAKAAN 1.PPDGJ. Edisi 1.Direktoiat Kesehatan Jiwa. Depkes R.I.1973. 2.WHO. Mental Retardation : Meeting The Challenge. Geneva. 1985. 3.Santoso dkk Penyelidikan Pendahuluan Retardasi Mental di Propinsi Jawa Tengah. Jiwa 1981; 2. 4.Salan R. Penelitian Prevalensi Gangguan Jiwa di Jakarta Banat Tambora 1, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. 1989. 5.Elkind, Weiner. Development of The Child New York : John Willey & Sons Inc. 1978. 6.Chin, Drew, Logan. Mental Retardation Toronto : CV Mosby Company 1979. Ucapan terima kasih : Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dr Rudy Salan kepala Pusat Pene/itian Penyakit Tidak Menular Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan RL, sejawat lainnya serta semua pihak yang telah membantu dan memberikan saran-saran berharga dalam penulisan makalah ini.

kandungan

July 2, 2007

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.

Hipertensi
Kode ICD-10: I10-I15
Kode ICD-9: 401
Daftar isi [sembunyikan]
1 Tekanan darah
1.1 Klasifikasi
1.2 Pengaturan tekanan darah
2 Gejala
3 Penyebab hipertensi
4 Pranala Luar

[sunting] Tekanan darah
Artikel utama: tekanan darah
Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai “normal”. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.

[sunting] Klasifikasi
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal 120 mmHg – 130 mmHg 85 mmHg – 95 mmHg
Untuk para lansia tekanan diastolik 140 mmHg masih dianggap normal.

Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Stadium 1
(Hipertensi ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Stadium 2
(Hipertensi sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Stadium 3
(Hipertensi berat) 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Stadium 4
(Hipertensi maligna) 210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.

Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.

Dalam pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal, penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap sebagai faktor resiko dan sebaiknya diberikan perawatan.

[sunting] Pengaturan tekanan darah
Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:

Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya
Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi “vasokonstriksi”, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.
Sebaliknya, jika:

Aktivitas memompa jantung berkurang
Arteri mengalami pelebaran
Banyak cairan keluar dari sirkulasi
Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.

Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).

Perubahan fungsi ginjal
Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara:

Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal.
Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal.
Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.
Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.

Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi.

Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.

Sistem saraf otonom
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan:

meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar)
meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak)
mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh
melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.

[sunting] Gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut:

sakit kepala
kelelahan
mual
muntah
sesak nafas
gelisah
pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.

[sunting] Penyebab hipertensi
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :

Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain.
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.

Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).

Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).

Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.

Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:

Penyakit Ginjal
Stenosis arteri renalis
Pielonefritis
Glomerulonefritis
Tumor-tumor ginjal
Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
Kelainan Hormonal
Hiperaldosteronisme
Sindroma Cushing
Feokromositoma
Obat-obatan
Pil KB
Kortikosteroid
Siklosporin
Eritropoietin
Kokain
Penyalahgunaan alkohol
Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
Penyebab Lainnya
Koartasio aorta
Preeklamsi pada kehamilan
Porfiria intermiten akut
Keracunan timbal akut.

kebidanan

July 2, 2007

Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin.

Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur.

Dalam ilmu kedokteran, istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan aborsi:

Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami.
Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang disengaja. Termasuk di dalamnya adalah:
Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan.
Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat.
Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain.
Dalam bahasa sehari-hari, istilah “keguguran” biasanya digunakan untuk spontaneous abortion, sementara “aborsi” digunakan untuk induced abortion.

Aborsi menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana adalah tindakan kriminal di Indonesia. Pasal-pasal KUHP yang mengatur hal ini adalah pasal 229, 341, 342, 343, 346, 347, 348, dan 349. Abortus

1. Pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu). 2. Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).Dari segi medikolegal maka istilah abortus, keguguran, dan kelahiran prematur mempunyai arti yang sama dan menunjukkan pengeluaran janin sebelum usia kehamilan yang cukup.

Jenis Abortus Menurut Terjadinya

a.Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan), yaitu:

1.Abortus Imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks 2.Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. 3.Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. 4.Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan

b. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat), yaitu: Menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badan bayi belum 1000 gram, walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup

Abortus provokatus dapat dibedakan menjadi:

1. Abortus Provokatus Medisinalis/Artificialis/Therapeuticus

a.Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Syarat-syaratnya :

•Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi

•Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi)

•Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat

•Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga / peralatan yang memadai, yang ditunjuk oleh pemerintah

•Prosedur tidak dirahasiakan

•Dokumen medik harus lengkap

2. Abortus Provokatus Kriminalis

Abortus yang sengaja dilakukan dengan tanpa adanya indikasi medik (ilegal). Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau obat-obat tertentu

Penyebab Abortus

1. Maternal.

2. Janin.

Hello world!

July 2, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!